Wajah Islam ala Barat: Dahulu dan Sekarang


Wajah Islam di dunia memang sudah mulai digambarkan ‘buruk rupa’ sejak tercetusnya Perang Salib abad XI hingga abad XIII. Sejak perang itu, umat Kristen (Barat) menyisakan dendam kesumat yang hingga kini masih membara dihati mereka. Mereka berupaya melakukan serangan-serangan lain kepada umat Islam di belahan bumi yang lain melalui penjajahan (yang sering mereka tutupi dengan dalih mencari rempah-rempah). Apa yang mereka bawa bukan hanya Gold (emas) dan Glory (kebanggaan) saja, namun mereka juga membawa Gospel (penyebaran Injil). Menurut sejarah, apa yang mereka lakukan untuk menyebarkan agama Kristen, selalu diiringi lumuran darah. Niat mereka bukan hanya sekedar menyebarkan agama, tapi mengikis dunia Islam dan menenggelamkan wajah kejayaan Islam.

Apa yang Barat lakukan untuk menghancurkan Islam penuh dengan taktik dan strategi yang matang. Mereka berupaya merepresentasikan wajah Islam sebagai wajah yang buruk rupa, sadis, monster dan menjijikkan didepan dunia. Hasilnya, saat ini tanyakan saja kepada orang-orang Islam yang awam di sekitarmu tentang image seperti apa yang mereka tangkap ketika melihat muslimah bercadar/burkah, atau laki-laki berjenggot, berdahi hitam, dan bercelana congkrang. Sudah bisa dipastikan mayoritas akan menjawab itu dandanan para ‘teroris’. Atau tanyakan juga siapakah Osama bin Laden. Rata-rata akan menjawab beliau adalah teroris. Bahkan yang sekelas aktivis masjid pun pernah ada yang berkata seperti itu.

Masih ingat surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, yang memuat karikatur Rasulullah Saw beberapa tahun lalu? Rasulullah Saw digambarkan buruk rupa, sadis, gila seks, dan phedophilia. Tidak beda apa yang terjadi dulu dan saat ini. Malahan sekarang lebih parah dibandingkan kondisi jaman dahulu.

Sebagai contoh lagi, Geert Wilder, politisi Belanda yang beberapa tahun lalu segaja membuat cari gara-gara dengan umat Islam demi popularitas politiknya melalui film Fitna. Melihat kondisi umat Islam yang adem-ayem (tenang-tenang) saja, dia memberanikan menghina Al-Qur’an dikatakan sebagai kitab suci yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan masal. Setelah itu, apa yang terjadi? Geert Wilder dianggap ‘pahlawan’ di negaranya, populer karena fitnahnya melalui Fitna (parahnya, umat Islam sendiri hanya bisa melakukan gertak sambal saja).

Upaya Barat untuk mencitrakan Islam dengan citra yang buruk sasarannya bukan hanya orang-orang awam di Barat saja, namun juga orang-orang muslim sendiri agar mereka phobia terhadap ajaran agamanya sendiri. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Anwar al-Jundy sebagai ‘Westernisation in Islamic World’. Westernisasi jika diartikan dalam arti yang luas berarti mendorong umat Islam dan bangsa Arab untuk menerima pemikiran-pemikiran Barat dalam jiwa umat Islam, menanamkan prinsip-prinsip pendidikan ala Barat sehingga umat Islam tumbuh dalam kehidupan dan pemikiran Barat sehingga nilai-nilai keislamannya menjadi hampa dalam hati mereka.

Ketika umat Islam sendiri mulai phobia dengan ajaran agamanya, maka mereka akan melupakan bahwa Islam merupakan sistem hidup (way of life) yang terbaik dan paling sempurna bagi umat manusia. Jika sudah seperti itu, maka umat Islam sendiri ikut-ikutan memerangi syariat Islam sekaligus mencegah usaha kebangkitan Islam layaknya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam pada umumnya.

Seorang rapper muslim lokal, Abdul Aziz Al-Makassary, pernah menyebut perang pemikiran seperti ini merupakan perang panjang. Memang benar apa yang dikatakannya, bahwa kondisi seperti ini (ghazwul fikri) sebenarnya sudah ada sejak jaman Rasulullah Saw masih hidup hingga saat ini. Hanya saja dalam versi yang berbeda-beda. Dulu Rasulullah Saw ketika menyampaikan wahyu dari Allah Ta’ala mereka citrakan sebagai orang gila yang berbicara nglantur, saat ini pun tak berubah. Tetap saja banyak musuh Islam yang mencitrakan seperti itu. Perang ini menjadi sangat panjang ketika umat Islam sendiri bukan hanya sudah tidak memiliki ‘persiapan perang’ yang cukup dengan ilmu dan pemahaman yang benar, namun sebagian besar umat Islam tidak memiliki tekad dan rasa cinta untuk membela agamanya yang sedang diinjak-injak. Para motivator, da’i, ustadz, bahkan ulama akan lebih banyak menghabiskan energinya untuk membangkitkan kedua aspek fundamental itu. Yah...memang tidak mudah membalikkan telapak tangan dalam membenahi ‘sisi dalam’ umat ini. Persiapan perangnya panjang, perangnya sendiri juga panjang...Wallahua’lam [aa]

0 komentar: