

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik...” (QS. Al Maa’idah:82)
“...mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup...”(QS. Al Baqarah:217)
Media Barat memang lebay kalau memberitakan sesuatu yang negatif dari Islam. Tapi jika ada topik-topik yang positif tentang Islam, mereka tutup mata tutup telinga seolah tidak tahu menahu apa yang terjadi. Celakanya, trend dan pola pemberitaan semacam itu bukan lagi hanya dimiliki media-media Barat, tapi media-media massa di Indonesia ikut-ikut mengekor tradisi berita negatif tentang Islam. Sebut saja akhir-akhir ini, soal aliran-aliran yang nyleneh memilih untuk shalat Ied sehari lebih awal dari ormas apapun di Indonesia, diberitakan berlebihan seolah sengaja menonjolkan sisi buruknya Islam saja.
Menurut para kritikus media sering membuat sindiran bahwa prinsip media-media saat ini dalam mencari berita adalah “kalo ada anjing menggigit manusia, bukan berita namanya. Tapi kalo manusia menggigit anjing, itu baru berita.” Maka jelas apa yang dicari oleh media bukanlah sesuatu yang umum, wajar, dan baik-baik. Namun sesuatu yang nyleneh, bagi mereka adalah sesuatu yang layak untuk disebar luaskan. Nah, jika sudah begitu, yang menjadi masalah besar adalah ketika yang menjadi objek berita adalah Islam. Karena ketika itu diterapkan, maka media hanya akan mencari hal-hal yang memberikan citra negatif saja soal Islam. Topik-topik tentang perpecahan antar jamaah, perbedaan pendapat penentuan 1 Syawal, tuduhan teroris, menikahi gadis dibawah 15 tahun, poligami, jihad, dan lain sebagainya akan lebih ‘menarik’ bagi para wartawan media. Hal-hal positif yang mencitrakan bahwa Islam adalah sebuah sistem yang komprehensif, yang mampu menjadi solusi bagi setiap permasalahan dunia (dan akhirat juga tentunya), keberhasilan-keberhasilan penerapannya dalam kehidupan, kontribusinya terhadap kehidupan masyarakat, serta hal-hal positif lainnya tentang Islam tidak akan mendapat ruang dimedia.
Seorang orientalis senior dan ahli linguistik, Noam Chomsky, mengatakan bahwa usaha memperburuk citra Islam merupakan upaya negara-negara Barat (khususnya Amerika) untuk mengatur seluruh dunia sesuai dengan kepentingan mereka. Karena mereka mengklaim diri mereka sebagai pemegang supremacy of truth, sehingga siapapun yang dianggap ancaman bagi kepentingannya - termasuk Islam – maka akan disingkirkan dan di stempel dengan image ‘buruk’. Jika stempel itu disetujui oleh masyarakat luas (baca: dunia), maka terbentuklah public opinion tentang ‘bahaya’-nya Islam bagi umat manusia dunia, lalu berikutnya penindasan terhadap umat Islam akan mendapat dukungan dan legitimasi dari seluruh dunia pula.
Upaya Barat dalam mencitrakan negatif Islam sering disebut dengan istilah ‘demonologi Islam’ oleh Asep Syamsul. Yang arti langsungnya adalah “penyetanan Islam”. Agak kasar memang. Tapi memang seperti itulah perumpamaan yang tepat terhadap apa yang sedang dilakukan oleh Barat kepada Islam: menciptakan label-label negatif tentang Islam, gerakan-gerakan dakwah, tokoh-tokoh pejuang Islam, syariat Islam, agar Islam terlihat ‘menyeramkan’, layaknya setan. Label yang paling umum digunakan Amerika adalah ‘teroris’. Kita bahkan sudah hafal diluar kepala pelabelan itu. Noam Chomsky juga pernah menulis tentang ini dan dimuat dalam harian Republika dengan judul “AS Memanfaatkan Terorisme sebagai Instrumen Kebijakan”. Maksud Noam dalam tulisannya itu adalah Amerika sering berdalih memerangi ‘terorisme’ ketika membasmi gerakan-gerakan Islam yang menentang dirinya, dan seolah mereka sudah berada di ‘jalan yang benar’ untuk berbuat itu semua.
Objek-objek yang sering menjadi sasaran Barat dalam pencitraan negatif di media massa biasanya adalah organisasi-organisasi Islam, pemerintahan-pemerintahan yang dipimpin oleh pemimpin muslim dan berani terang-terangan melawan Barat, serta tokoh-tokoh aktivis/pejuang Islam.
Untuk ‘kategori’ organisasi-organisasi Islam, yang jadi sasaran adalah Ikhwanul Muslimin (Mesir), Front Islamique du Salut (FIS – Aljazair), Hamas (Palestina), Hizbullah (Lebanon), Jihad Islam (Palestina), dan lain-lain. Sedangkan untuk kategori pemerintahan; Imam Khomeini (Iran), Muammar Qaddhafi (Libya), Saddam Husein (Irak); juga Zia Ul-Haq (Pakistan), Hasan al-Basyir (Sudan), dan Taliban (Afghanistan) yang mencoba menerapkan syariat Islam dalam pemerintahannya. Untuk tokoh-tokoh/aktivis Islam sejak dulu hingga kini seperti Hasan Al-Banna (Mesir), Sayyid Quthb (Mesir), Osama bin Laden (Afghanistan/Saudi Arabia), Hasan Turabi (Sudan), Syeikh Ahmad Yasin (Palestina), Syeikh Omar Abdul Rahman (Mesir) dan masih banyak lagi lainnya.
Namun betapa pun besar usaha mereka dalam menjatuhkan Islam, Allah Ta’ala yang Maha Perkasa tidak akan tinggal diam. Karena sebesar apapun perbuatan makar (tipu daya) yang mereka lakukan, Allah akan membalas tipu daya mereka itu. Seperti janji dalam firmanNya:
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali Imran:54)
Dan jika kita istiqomah membela agama ini, akan datang pula janji Allah untuk mengalahkan mereka.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan” (QS. Al-Anfaal:36)
Wallahu a’lam
[abu hafizh]

0 komentar:
Post a Comment